Mapala Se-Indonesia Dirikan Posko Kemanusiaan, Pimpin Aksi Tanggap Bencana Aceh Tengah
Mapala Se-Indonesia Hadir Bukan Hanya Membawa Bantuan, Tetapi Memastikan Proses Penyelamatan, Pemulihan dan Edukasi Kebencanaan Berjalan Secara Terpadu

By kabiro tangsel 13 Jan 2026, 00:11:59 WIB Daerah
Mapala Se-Indonesia Dirikan Posko Kemanusiaan, Pimpin Aksi Tanggap Bencana Aceh Tengah

Aceh Tengah, Aceh - infokomnusantaranews.id

Di tengah banjir dan longsor yang merobek perbukitan Aceh Tengah, Mapala Se-Indonesia tampil sebagai wajah harapan. Melalui Pusat Koordinasi Nasional (PKN) dan Pusat Koordinasi Daerah (PKD), organisasi mahasiswa pecinta alam ini mendirikan Posko Kemanusiaan Mapala Se-Indonesia sebagai pusat komando tanggap darurat banjir dan longsor, Minggu (11/01/2026).

Dari posko inilah, operasi penyelamatan korban, distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, pembersihan fasilitas umum, hingga pemulihan psikososial warga dijalankan secara terpadu. Sekitar 20 ton bantuan logistik berhasil disalurkan langsung ke desa-desa terdampak di Kecamatan Linge, Bintang, Kebayakan, dan Ketol wilayah-wilayah yang sebagian masih terisolasi akibat longsor dan rusaknya akses jalan.


Kehadiran Mapala Se-Indonesia menegaskan peran strategis organisasi pecinta alam kampus sebagai kekuatan sipil terlatih dalam penanggulangan bencana nasional. Mereka bergerak cepat, memahami medan dan bekerja dekat dengan warga sebuah karakter yang lahir dari tradisi panjang pendidikan alam bebas dan disiplin organisasi.

“Mapala Se-Indonesia hadir bukan hanya membawa bantuan, tetapi memastikan proses penyelamatan, pemulihan dan edukasi kebencanaan berjalan secara terpadu. Posko ini kami dirikan agar seluruh potensi relawan dan bantuan bekerja efektif dan tepat sasaran,” ujar Koordinator PKN Mapala Se-Indonesia.

Bagi Mapala, alam bukan sekadar ruang petualangan, melainkan ruang hidup yang rapuh. Ketika alam runtuh, manusia di sekitarnya ikut terguncang. Prinsip ini yang mendorong relawan Mapala menembus jalur-jalur licin dan berbukit Aceh Tengah, menyusuri desa-desa yang tertutup lumpur dan longsor.

Distribusi bantuan dilakukan dengan pola jemput bola. Relawan berjalan kaki, memikul logistik, menyeberangi jalan rusak menghadirkan bantuan langsung ke tangan warga. Di siang hari, mereka bergulat dengan lumpur, membersihkan masjid, jalan desa dan fasilitas umum. Jalur evakuasi dibuka, titik kumpul warga ditetapkan langkah-langkah mitigasi yang sering luput dalam fase darurat.

Di sektor kesehatan, relawan Mapala melakukan pemeriksaan medis, membagikan obat-obatan, serta menangani keluhan pascabencana. Infeksi kulit, gangguan pernapasan dan kelelahan fisik menjadi temuan umum akibat lingkungan lembap dan sanitasi yang belum pulih.

Namun, wajah paling kuat dari kerja Mapala justru terlihat saat malam turun. Di sebuah halaman sekolah dengan dinding retak dan atap seng berderik, cahaya proyektor menembus gelap. Anak-anak duduk beralaskan terpal biru, menatap layar putih sederhana. Tawa mereka pecah, jari-jari kecil menunjuk gambar yang bergerak.

Di balik layar itu berdiri Posko Kemanusiaan Mapala Se-Indonesia bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai simbol bahwa mahasiswa hadir di ruang paling sunyi pascabencana.

Di ruang kelas lain, puluhan anak menggenggam kertas gambar berwarna. Mereka menggambar burung, gunung, rumah, dan laut. Goresan-goresan polos itu menjadi bahasa trauma dan harapan. Seorang relawan perempuan berjongkok di antara mereka, menunjukkan gambar burung berwarna cerah. Anak-anak tertawa, saling memamerkan hasil karya.

Bagi Mapala, kegiatan ini bukan hiburan. Ia adalah trauma healing strategi pemulihan mental generasi paling rentan terdampak bencana. Malam hari, layar tancap digelar. Anak-anak dan orang tua duduk bersisian. Cahaya layar menjadi simbol sederhana bahwa di tengah gelap bencana, rasa aman masih bisa dihadirkan.

Secara investigatif, Mapala mencatat persoalan klasik yang terus berulang keterbatasan akses layanan dasar, jarak antar desa yang sulit ditembus, serta minimnya edukasi kebencanaan sebelum bencana terjadi. Temuan ini disusun sebagai bahan evaluasi dan rekomendasi pengurangan risiko bencana di wilayah pegunungan Aceh.


“Kami ingin masyarakat tidak hanya pulih, tetapi juga lebih siap menghadapi potensi bencana ke depan. Edukasi jalur evakuasi dan titik kumpul adalah bagian penting dari kerja kemanusiaan kami,” tambah Koordinator PKN.

Aksi di Aceh Tengah memperlihatkan Mapala Se-Indonesia bukan sebagai simbol romantisme alam, melainkan organisasi mahasiswa dengan otoritas moral dan kapasitas nyata di medan krisis ekologis. Di tengah keterbatasan negara dan beratnya medan, Mapala bergerak cepat, fleksibel dan membaur dengan warga.

Bagi masyarakat Aceh Tengah, Mapala bukan sekadar organisasi mahasiswa. Mereka adalah wajah solidaritas yang datang tanpa janji politik, tanpa baliho, tanpa sorotan kekuasaan. Yang tertinggal adalah jejak kerja dan ingatan kolektif bahwa ketika tanah retak dan lumpur menelan harapan, Mapala Se-Indonesia hadir untuk menjaganya tetap hidup.*

(Fadian)